Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah, pementasan drama yang dipentaskan oleh kelompok teater Universitas PGRI Semarang yang bernama Teater Gemma (Selasa, 4 Oktober 2016). Pemenntasan yang berlangsung di Gedung Pusat Lantai 7 diramaikan oleh mahasiswa UPGRIS mulai dari semester satu sampai semester lima menyaksikan pementasan tersebut. Tidak hanya mahasiswa saja, ada juga siswa SMA Gresik-pun ikut andil menyakskan pementasan tersebut. Bahkan ada juga mahasiswa Jepang yang menyaksiskan, ia datang ke UPGRIS bersama temannya yang merupakan mahasiswa UPGRIS Progdi PBI.
Seluruh penonton mulai berdatangan sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka berdiri menunggu di depan pintu. Cuaca saat itu hujan, akan tetapi suasana di depan pintu begitu panas karena tidak ada ruang untuk udara masuk. Penonton menunggu sangat lama, mereka tidak hanya diam ada yang mengintip, ada yang berteriak “presensi-presensi”. Setelah lama menunggu lama akhirnya pintu masuk pun dibuka. Penonton berdesak—desakan untuk masuk. Dua pintu dibua untuk masuk ke ruangan. Peserta memasuki ruangan suasana begitu gaduh, masing-masing diarahkanoleh panitia untuk menempati tempat duduk di depan terlebih dahulu.
Begitu gelap suasana panggung seolah menggambarkan cerita tersebut menyedihkan. Rumah bambu dengan kursi bambu di depan rumah menggambarkan sebuah desa yang asri. Pembawa aacara mulai menyapa penonton dan memberikan sedikit clue tentang drama yang akan diperankan. Lampu mulai dimatikan seakan penonton akan ikut serta dalam drama tersebut. Tiba-tiba penonton dikejutkan dengan suara teriakan “tidak,tidak,tidak” terbangun “harus secepat inikah aku kehilangan anakku satu-satunya?”. Putrinya yang bernama Wulan keluar “ada apa to Pak ?”. Nawang mengambilkan minum untuk bapak. Bulan purnama begitu terang dan indah, andaikan jika semua malam selalu bulan purnama, pasti setiap malam akan selalu indah. Kerinduan seorang anak kepada ibu tidak dapat dipungkiri oleh Nawangsih. Ia menginginkan bertemu dengan ibunya. Keinginan anak ingin bertemu sang ibu sang ayah pun mengajak Nawang jalan-jalan ke pantai agar Nawang merasa senang.
Cerita yang beralur mundur ini semakin membuat penonton merasa senang karena diceritakan dari awal mula Jaka bermimpi ingi menikahi sang bidadari sampai mimpi itu menjadi kenyataan. Walaupun penonton sudah mengetahui bagaimana jalan cerita tersebut tetapi penonton tetap antusias karena cerita tersebut tidak begitu monoto. Para aktor memerankan secara lucu dan membuat penonton senang melihat para aktor.
Apalagi tokoh Topo dan Tomo yang berperan sebagai warga yang akan mencalonkan diri menjadi lurah. Mereka memerankan perannya sangat jenaka. Dengan lelucon-lelucon yang dibicarakannya membuat suasana menjadi tidak sunyi. Suara tertawa yang ada menjadikan suasana ruangan yang gelap tidak menjadi sunyi dan menjadi ramai.
Kelahiran Nawangsih membuat Jaka Tarub dan Nawang Wulan tidak lagi kesepian. Kini mereka tidak lagi berdua di bawah atab rumah yang ditiinggalinya. Sekarang ada suara tangis yang mengisi ruang sepi di dalam rumah tersebut. Hari demi hari berlangsung Jaka merasa heran karena setiap harinya mereka memasak padi yang ada dilumbungnya tetapi Jaka merasa aneh kenapa padi di dalam lumbung tidak habis juga malah bertambah banyak.
Suatu ketika Nawaang Wulan hendak pergi mecuci di sungai dan ia menitipkan Nawangsih kepada suaminya dan berpesan untuk menjaga api yang sedang digunakan untuk menanak nasi tetapi jangan di buka penutupnya. Tetapi Jaka tidak mengindahkan amanah sang istri, ia tetap mebuka tup nasi tersebut.
Nawang Wulan merasa kecewa dengan Jaka karena Jaka tidak mengindahkan pesannya terlebih Nawang terkejut ia menemukan selendangnya dibawah tumpukan padi di dalam lumbung. Dan akhirnya Nawang harus pergi meninggalkan keluarganya yang ada di bumi dan kembali ke kayangan. Nawang berjanji akan tetap memenuhi kewajibannya menjadi seorang ibu. Tetapi dengan syarat, saat bulan purnama bawa Nawangsih ke danau di mana mereka bertemu tetapi Jaka harus meninggalkan Nawangsih. Hidup tidak akan lepas dari perpisahan karena di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Lampu di nyalakan tepuk tangan begitu meriah. Dilanjutkan dengan penyetingan suasana drama “Monolog Balada Sumarah” penonton dapat melihat bagaimana mereka menyiapkan segala sesuatu sebelum memulai pementasan mulai dari lighthing, susunan tempat yang digunakan. Sebagai pandangan penonton juga mereka mengetahui bagaimana persiapan-persiapan apa saja yang harus disiapkan sebelum memulai pementasan.
Penyetingan telah selesai lampu kembali dipadamkan suara menyeramkan membuat suasana menjadi sening ruangan. Perlahan sorot lampu putih menyinari aktor Sumarah “Tuan jaksa ini bukan pembelaan, sekali lagi ini bukan pembelaan. Nama saya Sumarah. Saya seorang perempuan.dan seorang pembunuh”.
Bertahun-tahun ia menjadi budak di negeri orang. Sejak kecil tidak berani mendongakkan kepala dan berkata. Teringat pak Kasir guru madrasahnya pernah menjelaskan “jadi, pembunuhan para jenderal itu dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat keji yang tergabung dalam organisasi PKI. Nah, terjadi di wilayah ini (menggedor papan) PKI itu kejam, jahat tidak punya hati, untuk itu segera dihapuskan dan dilarang berkembang lagi, seluruh ante-ante PKI ini ditutup”
Sumarah menjadi bahan pembicaraan teman-teman semasanya, tidak hanya temen-temannya saja tetanggapun ikut membicarakannya yang kesalah tersebut tidak dibuat olehnya tapi terkena imbasnya. Merasa sangat tersingkirkan di masyarakat Sumarah memutuskan menjadi TKW. Menurutnya dengan menjadi TKW dia akan terlepas dari baying-bayang bapaknya yang selalu menguntitnya.
Aktor Sumarah sangat terlihat luwes tidak hanya raut wajahnya saja, tetapi tutur kata yang diucapkan membuat suasana menjadi hening. Semua menjadi kagum melihat molognya yang sangat melekat. Monolog yang dibwakan mencerikana tentana bersihpung TKW yang di kira anak PKI yang menjadi pembantu di negri orang dan selalu di tindas, dicaci. Surat tanda bersihpun tidak bisa didapatkannya. Saat semua focus dengan Sumarah ada kata-kata yang membuat penonton tertawa “cosinus, tangen, diferensial, jadi irama kain pel yang emnari-nari di atas lantai. Integral, trigonometri, matriks, hokum New Ton dan Hukum arcimedes menjadi irama rumus menyetrika baju”.
“Indonesia yang katanya damai, tentram, ramah tamah semua hanya isu belaka. Aku Sumarah seorang TKW dibalik cadar-cadar majikanku yang selalu ditindas, disiksa, gajiku selama satu tahun tidak diberikan dengan alasan tetebengek”. Betapa sakitnya menjadi Sumarah yang selalu diikuti baying-bayang ayahnya rela menjadi TKW. Menjalani penderitaan yang sangat sakit harus di caci, gaji tidak diberikan bahkan tuan majikanpun sampai menodainya sehingga menjadikan Sumarah sebagai seorang pembunuh.
Penonton memberi tepuk tangan sangat meriah. Monolog Balada Sumarah sangat mengesankan yang dapat memberikan bayangan bahwa hukum keadilandi Indonesia sangat kurang. Dan undang-undang perlindunganpun tidak ditegakkan secara tegas. Hanya orang beruang saja yang mendapat perlindungan
-Chatrine Santi Birgante, Mahasiswa kelas 3E Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.
Komentar
Posting Komentar