Pemerolehan Diftong [ai], [oi], [au] pada tahap Perkembangan Anak Usia 2-4 Tahun (Penerapan Teori Wardana)


Pemerolehan Diftong [ai], [oi], [au] pada tahap Perkembangan Anak Usia 2-4 Tahun (Penerapan Teori Wardana)


Dosen Pengampu : Raden Yusuf Sidiq Budiman, S. Pd., M, A.




Oleh :
Chatine santi Birgante
15410195




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2017-2018



BAB I PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan kata yang mempunyai makna yang digunakan oleh masyarakat untuk bekomunikasi.  Sejak lahir manusia sudah mulai berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya ,melalui indera-indera yang sudah dapat digunakan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi melibatkan dua pihak yaitu penutur dan mitra tutur  yang menaggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dengan melibatkan anggota tubuh seperi anggota gerak dan lainnya.
Gunarsa (dalam Wardana, 2006 : 1) Seorang anak atau bayi dilahirkan tidak seperti anak ayam yang langsung bisa berjalan, melaikan akan melalui proses atau tahap-tahap tertentu sampai dia bisa berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa pada makhluk hidup dari mulai kehidupannya dan dalam perjalanan hidup seterusnya  terdapat dasar-dasar, pola-pola yang berlaku karena sifat individualnya.
Begitu juga dengan bahasa seorang bayi atau anak. Bayi-bayi yang baru dilahirkan ternyata cenderung memilih bahasa ibu mereka. Ketika bayi memasuki usia sekitar 6 bulan bayi mulai mengadopsi intonasi ujaran komunitasnya. Setelah memasuki usia 10-12 bulan, anak belajar mengucapkan fonem diskonstruk dalam kata-kata pertamanya (Musfiroh, 2017:69-71).
Owens (dalam Musfiroh, 2017 : 71) pada usia 3 tahun anak telah mengusai seluruh vocal bahasanya. Pada usia 4 tahun, anak telah memperoleh konsonan, pada usia 6-7 tahun, anak telah dapat mengucapkan klaster.
Wardana (2006 : 27) berpendapat bahawa anak umur 2 tahun 7 bulan mampu mengusai diftong [ai], anak umur 2 tahun 9 bulan menguasi diftong [oi], dan anak umur 3 tahun 6 bulan mengusai diftong [au]. Bertolak dengan Wardana, Novia Solichah (2016 : 35-36) anak usia 5-6 tahun kesulitan melafalkan diftong (seperti dalam amboi, imbau, harimau, sepoi).
Dari teori di atas peneliti tertarik membuktikan teori Wardan bahwa, anak umur 2 tahun 7 bulan mampu mengusai diftong [ai], anak umur 2 tahun 9 bulan menguasi diftong [oi], dan anak umur 3 tahun 6 bulan mengusai diftong [au].
Pada penelitian ini difokuskan pada pemerolehan diftong pada anak usia 2-4 tahun untuk membuktikanteori Wardana . Serta akan dikaji tentang bagaimana kemampuan diftong pada masing-masing anak. Diharapkan penelitian ini dapat memberi kesimpulan atas beberapa gambaran teori di atas.

 

B.     Landasan Teori

Wardana (2006 : 43) Diftong adalah voal yang berubah kualitasnya, dalam sistem penulisan diftong biasa dilambangkan dengan dua huruf vocal. Diftong merupakan bunyi vocal rangkap yang terdiri dari dua bunyi vocal dan terdapat dalam satu suku kata. Ciri bunyi diftong adalah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vocal yang satu dengan yang lain saling berbeda.
Dalam Bahasa Indonesia ada 3 buah diftong, yaitu [ai], [au], dan [oi] yang masing-masing dapat ditulis fonemis /ay/, /aw/, dan /oy/, kedua huruf vocal tidak dapat dipisahkan. Hal itu harus dibedakan dari deretan dua huruf yang melambangkan vocal yang kebetulan berjejeran.
Chaer (2015, 202-205) Dalam penelitiannya Jakobson mengmati pengeluaran bunyi-bunyi oleh bayi-bayi pada tahap membabel dan menemukan bahwa bayi yang normal mengeluarkan berbagai ragam bunti dalam vokalisasinya baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Namun, ketika bayi mulai memperoleh “kata” pertamanya (kira-kira 1 : 0 tahun) maka kebanyakan bunyi-bunyi ini menghilang. Malah sebagian bunyi-bunyi itu baru muncul kembali beberapa tahun kemuadian.
Pada tahap membabel bayi hanya melatih alat-alat vokalnya dengan cara mengeluarkan bunyi-bunyi tanpa tujuan tertentu, atau bukan untuk cara bekomunikasi. Sebaliknya, pada tahap pemerolehan bahasa yang sebenarnya bayi mengikuti suatu pemerolehan bunyi yang relatif universal dan tidak berubah. Kontras vokal pertama yang diperoleh anak-anak adalah kontras vokal lebar [a] dengan vokal [i]. Lalu diikuti kontras vokal sempit depan [i] dengan vokal sempit belakang [u]. Sesudah itu baru antara vokal [e] dengan vokal [u] dan vokal [o] dengan vokal [e].
Wardan (2006  : 45) Pada penelitian diminta untuk menirukan bunyi vokal rangkap. Penguasaan bunyi vokal rangkap pertama kali dikuasai setelah informan diminta menirukan kata tersebut dan berdasarkan data adalah [ai] pada anak usia 2 tahun 7 bulan. Penguasaan bunyi diftong yang selanjutnya berdasarkan data adalah [oi] pada anak usia 2 tahun 9 bulan . Dan pengusaan bunyi diftong berdasarkan data adalah bunyi [au] pada anak usia 3 tahun 6 bulan, dikuasinya bunyi diftong ini karena berdasarkan data bahwa saat informan diminta untuk menirukan kata-kata yang mengandung unsur diftong ternyata telah menguasai bunyi diftong tersebut.

C.       Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian di mana rumusan masalah adalah apakah benar atau salah teori yang dikemukakan oleh Wardana dan bagaimana kenyataan yang ada di lapangan.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi antara individu. Sejatinya bahasa semakin hari semakin berkembang seperti anak yang semakin dewasa semakin banyak kemampuan berbahasa yang dimiliki.
Mulai dari anak membabel hinggga dapat menggunakan kalimat yang komplek. Dalam pemerolehan kalimat yang kompleks ada beberapa tahapan yang didapatkan. Salah satunya adalah pemerolehan diftong.
Penguasaan vokal pada anak biasanya anak usia 2 tahun mampu menguasi huruf vokal walaupun secara tidak keseluruhan. Pada tahap selanjutnya anak dapat mengusai vokal dobel atau diftong. Dimulai dari diftong [ai] yang dikuasai lebih awal pada anak usia 2 tahun.
Kemampunya mengusai diftong pada anak mulai berkembang ke tahap yang ke dua penguasaan diftong [au] biasanya pada anak umur 3-4;5 tahun] tidak memungkiri jika masih ada anak yang belum mampu menguasai diftong yang ke dua karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti gigi ompong, gigi gugus, ataupun cedal.
Selanjutnya pengyusaan diftong yang ke tiga adalah diftong [oi] yang biasanya anak umur 5 tahun ke atas baru mampu mempelajari diftong [oi]. Mengapa demikian karena ada beberapa faktor lainnya seperti dialek yang dimiliki. Sebab lainnya karena kurangnya pengetahuan fonemik bahasa Indonesia anak menjadi kaku untuk mengucapkan bunyi-bunyi diftong yang menurut mereka sukar.
Maka dari Hipotesis diatas maka dilakukan penelitian Pemerolehan Diftong [ai], [oi], [au] pada tahap Perkembangan Anak Usia 2-4 Tahun (Penerapan Teori Wardana). Teori dari Wardana yaitu pada anak umur 2 tahun 7 bulan sudah menguasai diftong [ai], anak umur 2 tahun 9 bulan sudah menguasai diftong [au], dan anak umur 3 tahun 4 bulan sudah mengusai diftong [oi]

D.      Metode Penelitian

1.      Pendekatan Penelitian

Penelitian ini berusaha untuk  mengungkapkan permerolehan bahasa pada anak, khususnya perkembangan fonem diftong. Untuk mendapatkan sebuah data peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena dengan pendekatan tersebut relevan dengan sifat-sifat khas pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan kualitatif akan lebih menonjolkan kesan alami pada anak. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengambilan data dengan metode berkomunikasi dengan anak dengan pemberian kegiatan penuturan.

2.      Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunaqkan dalam penelitian ini adalah metode cakap. Metode ini dilakukan secara langsung. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan informan, yaitu penambahan atau pembantu bahasa  (Sudaryanto dalam Warana, 2006:18)
Untuk mendapatkan data  ditentukan dengan jumlah minimal 2 anak setiap masing-masing umur. Masing masing anak yang teliti didapatkan dari wilayah kabupaten Pati masing-masing  4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan.
Dalam penelitian ini untuk umur 2 tahun terdapat 2 anak yang diteliti, untuk umur 3 tahun ada 3 anak yang diteliti, dan untuk anak umur 4 tahun ana 2 anak yang diteliti.

3.      Metode Analisis Data

Sesuai dengan tahapannya, setelah data yang dikumpulkan dianggap memadai, data yang tersedia kemudian dianalisis. Analisis pertama dilakukan untuk menemukan tahap-tahap penguasaan bunyi vokal diftong pada usia 2-4 tahun. Dalam berbagai stuktur kata dalam bahasa Indonesia.
Metode Pemaparan Hasil Analisis Data
Dalam penelitian ini cara penyajiannya secara informal  yaitu dengan kata-kata biasa dan penyajian secara formal yaitu dengan lambang-lambang . adapun lambang yang digunakan adalah tanda suku kurung ([ ]) yang menyatakn unsur fonetis.

BAB II PEMBAHASAN


Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk saling bertukar pendapat melalui pikiran masing-masing individu. Seiring bahasa lisan juga dapat diikuti bahasa isyarat biasanya diikuti dengan gerakan tubuh untuk memperjelas suatu maksud.
Pemerolehan bahasa yang didapatkan oleh manusia ada yang didapatkan secara sadar dan secara sadar. Dalam perkembangannya bahasa ini berkembang dari tahap ke tahap. Mulai dari kata yang terdiri dari satu kata mewakili keseluruhan samapi ke kalimat yang kompleks sehingga menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan jelas.
Anak merupakan salah satu penutur bahasa yang semakin hari bahsanya semakin berkembang. Pada adak usi a 2 tahun belum dapat mengungkapkan alfabet secara sempurna begitu juga dengan anak umur 3 dan 4 tahun. Dalam pelafalan alfabet anak masih ada yang perlu ditekakan untuk kata-kata yang sulit.
Pada huruf konsonan biasanya anak lebih lama untuk mengusai, sedangkan vokal mulai dari tahap membabel anak sudah dapat melafalkan akan tetapi belum sempurna dan tidak terlalu jelas.
Wardana (2006 : 23) Bunyi vokal dikuasi terlebih dahulu karena vokal pembentukkannya tidak mengalami hambatan pada daerah artikulasi. Sejalan dengan yang diungkapkan wardana memang benar.
Vokal di dalam bahasa indonesia ada enam vokal, yaitu [a], [i], [u], [e], [o], [ɘ] (Meiliono dalam Wardana, 2006 : 23). Dari huruf vokal terdapat bunyi diftong, yaitu adalah dua vokal yang berbeda berada dalam satu kata dan sejajar. Diftong sendiri dalam bahasa Indonesia ada tiga, yaitu [ai], [au], dan [oi] yang masing-masing dapat dituliskan secara fonemis /ay, /aw/, dan /oy/  . ciri bunyi diftong ialah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan yang lain saling berbeda.
Jika pada anak 2 tahun mulai menguasai huruf vokal tidak dengan bunyi diftong. Kemampuan anak dalam menguasai diftong ada 3 tahapan. Yang pertama penguasaan diftong [ai], ke dua diftong [oi] dan yang ke tiga diftong [au].Pada penelitian ini anak diminta untuk menirukan bunyi vokal rangkap tersebut dan berdasarkan data  informan tersebut tidak sempurna menirukan dalam arti bahwa bunyi yang ditirukan diganti dengan bunti lain karena belum bisa diucapkai saat diucapkan ketika dirangkai dengan kata lain.
Ada beberapa pemerolehan data dalam penelitian anak umur 2 tahun yang dapat mengusai diftong yang ke dua dan ke tiga akan tetapi, pada anak umur 3 dan 4 tahun ada yang belum dapat mengusai diftong ke dua dan ketiga. Hal ini disebabkan dari beberapa faktor salah satunya keaktifan anak dalam berinteraksi dengan individu lain. Anak yang cenderung diam akan kurang terdengar jelas dalam pelafalan diftong. Berikut data pemerolehan diftong pada anak usia 2-4 tahun:
a.       Kemampuan diftong [ai] pada anak usia 2 tahun. Urutan penguasaan bunyi vokal rangkap pertama kali dikuasai setelah informan diminta menirukan kata tersebut dan berdasarkan data adalah [ai] (Wardana, 2006 : 44). Pada penelitian yang saya lakukan sudah membuktikan bahwa pada anak usia 2 tahun sudah mampu atau menguasai diftong [ai] berikut data penelitian:
1)      Agil
No
Kata
1
Samp[ai]
Camp[ai]
2
Sung[ai]
Nyuny[ai]
3
Pand[ai]
Pand[ai]
Awal dari penelitian anak malu-malu saat bertemu dan malu untuk bertanya karena tidak pernah bersapa muka. Akan tetapi semakin lama dan melibatkan orang tuanya, anak mau mengucapkan bunyi diftong dengan didikte dan anak menirukan. Dari ketiga kata tersebut anak belum menguasai huruf konsonan yaitu [s]. Dalam dua kata yang berbeda fonemik berubah menjadi berbeda.  Sedangkan untuk penguasaan diftong [ai] dari tiga kata yang telah ditirukan anak berusia 2 tahun sudah mampu menguasai diftong [ai] dalam pengucapan anak harus diulang-ulang agar mereka mam[pu memahami apa nyang harus ditirukan. Jika dalam satu kali penyontohan kata anak jika tidak mengerti tidak akan mengucapkannya.

2)      Dharma Virya Hadinatha
No
Kata
1
Samp[ai]
Camp[ai]
2
Sung[ai]
Nyuny[ai]
3
Pand[ai]
Pand[ai]
Pada pengambilan data anak diajak berbicara dengan peneliti tidak mau bicara dan hanya berlarian saja. Peneliti meminta bantuan kepada ibu dari sang anak. Dalam pengambilan datanya sang anak sambil bermain dan cenderung malas, untuk mengucapkannya karena anak belum terlalu sering diajak untuk belajar bersama. Akan tetapi dalam penguasaan diftong anak sang anak sudah mengusai diftong [ai] tanpa ada pengulangan pelafalan dari anak sudah jelas bahwa anak mampu menguasai.

b.      Kemampuan diftong [oi] pada anak usia 3 tahun.   Berdasarkan data yang diambil pengusaan bunyi diftong yang ke dua adalah diftong [oi] . berikut data penelitian :

1) Banyu Dhamar Pinulung
No
Kata
1.       
Sep[oi]
Sep[oi]
2.       
Amb[oi]
Amb[oi]
3.       
As[oi]
As[oi]
Dalam penelitian anak diajak belajar mengucapkan diftong. Dari tiga kata tersebut anak sudah menguasai huruf konsonan dan vokal. Dan untuk penguasaan diftong [oi] pada informan sudah mengusai dengan penuh. Dengan beberapa kali pengulangan diftong yang diucapkan tidak berubah dan tetap dapat mengucapkan diftong [oi].

2)      Tristan
No
Kata
1
Sep[oi]
Tep[oi]
2
Amb[oi]
Ab[oi]
3
As[oi]
At[oi]
Dalam pengambilan data anak diajarkan sang ibu untuk mengulang kata yang diucapkan oleh ibunya. Dari tiga kata yang telah ditirukan oleh anak tersebut dalam diputuskan bahwa informan belum dapat mengusai huruf konsonan karena adanya faktor ompong, jadi menghambat informan untuk mengucapkan hurus [s]. Sedangkan untuk vokal konsonan, anak sudah menguasai. Dan untuk bunyi diftong sang anak sudah mengusai tanpa harus adanya penekanan dan pengulangan untuk meyakinkan pengusaan bunyi diftong.

3)      Siti Aqila Nur Fitriani
No
Kata
1
Sepoi
Sepoi
2
Amboi
Ambio
3
Asoi
Acoi





Dari tiga kata yang telah ditirukan oleh anak tersebut, bawasanya anak sudah menguasai konsonan [s] diawal kata akan tetapi belum menguasai konsonan [s] ditengan kata. Dalam menentukan kemampuan anak juga tidak perlu adanya penekanan untuk menegaskan penguasaan diftong [oi pada anak.

c.       Kemampunan diftong [au] pada anak usia 4 tahun.
1)      Fatin Haniatul Hasna
No
Kata
4
Lampau
Lampo / Lampa-u
5
Jangkau
Jangkou
6
Sakau
Sakau
Dari tiga kata yang telah ditirukan oleh anak dapat dinyatakan bahawa informan  dalam penguasaan vokal diftong belum menguasai, masih adanya penekanan dalam mengucapkan diftong [au] karena masih terpengaruh oleh dialek jawa yang biasanya vokal diftong [au] digantikan dengan vokal [o]. Selain dialek yang mempengaruhi penguasaan diftong [au] sang anak juga cenderung sering bercanda. Maka disitu pula dilakukan penekanan pengulangan pelafalan bunyi diftong.

2)      Angel  Khaira
No
Kata
4
Lampau
Lampa
5
Jangkau
Jangka
6
Kerbau
Kerba
Dari kata yang telah ditirukan oleh anak dapat dinyatakan bahw informan belum menguasai vokal diftong [au]. Kesulitan yang dialami anak adalah untuk membuka mulut untuk berbicara masih malu-malu. Walaupun sudah ada teman yang mencontohkan untuk pelafalan bunyi diftong akan tetapi sanganak belum dapat mengucapkan diftong [au]. Jadi dalam pengucapan kata anak masih belum menguasai.

Dapat di simpulkan dalam tabel kemampuan vokal diftong pada masing-masing anak.
Usia penguasaan bunyi diftong
Diftong yang dikuasi
2 tahun
[ai]
3 tahun
[oi]
4 tahun
-

BAB III PENUTUP

Simpulan

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk saling bertukar pendapat melalui pikiran masing-masing individu. Seiring bahasa lisan juga dapat diikuti bahasa isyarat biasanya diikuti dengan gerakan tubuh untuk memperjelas suatu maksud.
Seorang anak awalnya belum dapat mengungkapkan kata, hanya membabale. Seiring dengan pertumbuhan anak mulai dapat mengungkapan satu kata mewakili keseluruhan makana. Hingga ke dua kata dan mulai berkembang hingga dapat membuat kalimat yang kompleks yang menunjukkan maknma kata yang sesungguhnya.
Penguasahan vokal lebih awal dialami oleh seorang anak dibandingkan hurus konsonan karena huruf vokal tidak mengalami hambatan saat pengucapan. Begitu juga dengan vokal diftong lebih awal dikuasi dafri pada konsonan klaster.
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bawa teori wardana kurang tepat karena pada anak 4 tahun belum dapat menguasai vokal diftong au karena adanya berberapa faktor seperti masih kurang berkomunikasi, ompong, dan dialek yang sudah sering digunakan.
Dari tabel yang ada dipembahasan dapat ditarik kesimpulan pula, bahwa kemampuan diftong [au] memerlukan tahap yang lebih tinggi lagi karena pada teori Novia Solichah juga disebutkan bahwa anak umur 5-6 tahun juga masih sulit menguasai bunyi diftong secara keseluruhan.

Daftar Pustaka


Wardana, Adi. 2006. “Fonologi Bahasa Indonesia  pada Anak Usia Prasekolah”.  
        Skripsi. Fakultas Sastra, Sastra Indonesia, Universitas Airlangga Surabaya.

Solichah, Novia. 2006.  Pengaruh Kegiatan Sosiodrama Terhadap Peningkatan  
Kemampuan Bahasa Lisan Anak Usia Dini”. Skripsi. Fakultas Psikologi
Dan Kesehatan,  Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Sunan
Ampel Surabaya.

Musfiroh dan Tadkirotun. 2017. “Psikolinguistik Edukasional”. Yogyakarta. Tiara
Wacana.

Chaer, Abdul. 2015. “ Psikolinguistik kajian Teoritik  . Jakarta. PT. Rineka
Cipta.

Lampiran

Biodata
Umur 2 tahun
Tanggal pengambilan data 3 Desember 2017
Nama   : Agil Abdilah
TTL     : Pati, 21 Januari 2016

No
Kata
Anak
1
Samp[ai ]
Camp[ai]
2
Sung[ai]
Nyuny[ai]
3
Pand[ai]
Pand[ai]
4
Lamp[au]
Lamp[ao]
5
Jangk[au]
Tangt[o]
6
Kerb[au]
Terb[au]
7
Sep[oi]
Cep[oi]
8
Amb[oi]
Amb[oi]
9
As[oi]
Ac[oi]


Tanggal pengambilan data
Umur 2 tahun
9 Desember 2017
Nama   : Dharma Virya Hadinatha
TTL     : Pati, 22 Oktober 2015


No
Kata
1
Samp[ai ]
Samp[ai]
2
Sung[ai]
Sung[ai]
3
Pand[ai]
Pand[ai]
4
Lamp[au]
Lamp[a]
5
Jangk[au]
Jangk[a]
6
Sak[au]
Keb[a]
7
Sep[oi]
Sap[i]
8
Amb[oi]
-
9
As[oi]
-



Umur 3 tahun
Tanggal pengambilan data
3 Desember 2017
Nama   : Banyu Dhamar Pinulung
TTL     : Pati, 6 Juni 2014

No
Kata
1.       
Samp[ai]
Samp[ai]
2.       
Sung[ai]
Sung[ai]
3.       
Pand[ai]
Pand[ai]
4.       
Belal[ai]
Belal[ai]
5.       
Lamp[au]
Lap[oi]
6.       
Jangk[au]
Jangk[oi]
7.       
Keb[au]
Kerb[oi]
8.       
K[au]
K[au]
9.       
B[au]
B[au]
10.   
Sep[oi]
Sep[oi]
11.   
Amb[oi]
Amb[oi]
12.   
As[oi]
As[oi]


Umur 3 Tahun
Tanggal pengambilan data
26 Desember 2017
Nama   : Tristan Pradana Anwar Saputra
TTL     : Blora, 20 Desember 2014


No
Kata
1
Samp[ai]
Tant[ai]
2
Sant[ai]
Tant[ai]
3
Belal[ai]
Beyay[ai]
4
Harim[au]
Haim[au]
5
Jangk[au]
Tant[oi]
6
Kerb[au]
Peb[au]
7
Sep[oi]
Tep[oi]
8
Amb[oi]
Ab[oi]
9
As[oi]
At[oi]














Umur 3 Tahun (3,5 tahun)
Tanggal pengambilan data
26 Desember 2017
Nama   : Siti Aqila Nur Fitriani
TTL     : Pekalongan, 4 Agustus 2014


No
Kata
1
Samp[ai]
Samp[ai]
2
Sant[ai]
Ant[ai]
3
Belal[ai]
Belal[ai]
4
Harim[au]
Harim[o]
5
Jangk[au]
Jangk[au]
6
Kerb[au]
Keb[au]
7
Sep[oi]
Sep[oi]
8
Amb[oi]
Amb[oi]
9
As[oi]
Ac[oi]












Umur 4 tahun
Tanggal Pengambilan data 
2 Desember 2017
Nama   : Fatin Haniatul Hasna
TTL     : Pati, Desember 2013

No
Kata
1
Samp[ai]
Samp[ai]
2
Sung[ai]
Suny[ai]
3
Pand[ai]
Pand[ai]
4
Lamp[au]
Lamp[o] / Lamp[a-]u
5
Jangk[au]
Jangk[ou]
6
Sak[au]
Sak[au]
7
Sep[oi]
Sep[oi]
8
Amb[oi]
Amb[oi]
9
As[oi]
As[oi]

Umur 4 Tahun
Tanggal pengambilan data
3 Desember 2017
Nama   : Angel Khaira
TTL     : Pati, 24 Desember 2013

No
Kata
1
Samp[ai]
Samp[ai]
2
Sung[ai]
Pand[ai]
3
Pand[ai]
Sung[ai]
4
Lamp[au]
Lamp[a]
5
Jangk[au]
Jangk[a]
6
Kerb[au]
Kerb[a]
7
Sep[oi]
Sep[ai]
8
Amb[oi]
Amb[oi]
9
As[oi]
As[oi]


Komentar