Pemerolehan Diftong [ai], [oi], [au] pada tahap Perkembangan Anak Usia 2-4 Tahun (Penerapan Teori Wardana)
Pemerolehan Diftong
[ai], [oi], [au] pada tahap Perkembangan Anak Usia 2-4 Tahun (Penerapan Teori
Wardana)
Dosen Pengampu : Raden
Yusuf Sidiq Budiman, S. Pd., M, A.
Oleh :
Chatine santi Birgante
15410195
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI
SEMARANG
2017-2018
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan kata yang
mempunyai makna yang digunakan oleh masyarakat untuk bekomunikasi. Sejak lahir manusia sudah mulai berkomunikasi
dengan lingkungan sekitarnya ,melalui indera-indera yang sudah dapat digunakan
berkomunikasi. Dalam berkomunikasi melibatkan dua pihak yaitu penutur dan mitra
tutur yang menaggunakan bahasa sebagai
alat komunikasi dengan melibatkan anggota tubuh seperi anggota gerak dan
lainnya.
Gunarsa (dalam Wardana, 2006 : 1)
Seorang anak atau bayi dilahirkan tidak seperti anak ayam yang langsung bisa
berjalan, melaikan akan melalui proses atau tahap-tahap tertentu sampai dia
bisa berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa pada makhluk hidup dari mulai
kehidupannya dan dalam perjalanan hidup seterusnya terdapat dasar-dasar, pola-pola yang berlaku
karena sifat individualnya.
Begitu juga dengan bahasa seorang
bayi atau anak. Bayi-bayi yang baru dilahirkan ternyata cenderung memilih
bahasa ibu mereka. Ketika bayi memasuki usia sekitar 6 bulan bayi mulai
mengadopsi intonasi ujaran komunitasnya. Setelah memasuki usia 10-12 bulan,
anak belajar mengucapkan fonem diskonstruk dalam kata-kata pertamanya
(Musfiroh, 2017:69-71).
Owens (dalam Musfiroh, 2017 : 71)
pada usia 3 tahun anak telah mengusai seluruh vocal bahasanya. Pada usia 4
tahun, anak telah memperoleh konsonan, pada usia 6-7 tahun, anak telah dapat
mengucapkan klaster.
Wardana (2006 : 27) berpendapat
bahawa anak umur 2 tahun 7 bulan mampu mengusai diftong [ai], anak umur 2 tahun
9 bulan menguasi diftong [oi], dan anak umur 3 tahun 6 bulan mengusai diftong
[au]. Bertolak dengan Wardana, Novia
Solichah (2016 : 35-36) anak usia 5-6 tahun kesulitan melafalkan diftong
(seperti dalam amboi, imbau, harimau, sepoi).
Dari teori di atas peneliti
tertarik membuktikan teori Wardan bahwa, anak umur 2 tahun 7 bulan mampu
mengusai diftong [ai], anak umur 2 tahun 9 bulan menguasi diftong [oi], dan
anak umur 3 tahun 6 bulan mengusai diftong [au].
Pada penelitian ini difokuskan
pada pemerolehan diftong pada anak usia 2-4 tahun untuk membuktikanteori
Wardana . Serta akan dikaji tentang bagaimana kemampuan diftong pada
masing-masing anak. Diharapkan penelitian ini dapat memberi kesimpulan atas
beberapa gambaran teori di atas.
B.
Landasan Teori
Wardana (2006 : 43) Diftong adalah
voal yang berubah kualitasnya, dalam sistem penulisan diftong biasa
dilambangkan dengan dua huruf vocal. Diftong merupakan bunyi vocal rangkap yang
terdiri dari dua bunyi vocal dan terdapat dalam satu suku kata. Ciri bunyi
diftong adalah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vocal yang satu
dengan yang lain saling berbeda.
Dalam Bahasa Indonesia ada 3 buah
diftong, yaitu [ai], [au], dan [oi] yang masing-masing dapat ditulis fonemis
/ay/, /aw/, dan /oy/, kedua huruf vocal tidak dapat dipisahkan. Hal itu harus
dibedakan dari deretan dua huruf yang melambangkan vocal yang kebetulan
berjejeran.
Chaer (2015, 202-205) Dalam penelitiannya Jakobson
mengmati pengeluaran bunyi-bunyi oleh bayi-bayi pada tahap membabel dan menemukan
bahwa bayi yang normal mengeluarkan berbagai ragam bunti dalam vokalisasinya
baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Namun, ketika bayi mulai memperoleh
“kata” pertamanya (kira-kira 1 : 0 tahun) maka kebanyakan bunyi-bunyi ini
menghilang. Malah sebagian bunyi-bunyi itu baru muncul kembali beberapa tahun
kemuadian.
Pada tahap membabel bayi hanya melatih alat-alat
vokalnya dengan cara mengeluarkan bunyi-bunyi tanpa tujuan tertentu, atau bukan
untuk cara bekomunikasi. Sebaliknya, pada tahap pemerolehan bahasa yang
sebenarnya bayi mengikuti suatu pemerolehan bunyi yang relatif universal dan
tidak berubah. Kontras vokal pertama yang diperoleh anak-anak adalah kontras
vokal lebar [a] dengan vokal [i]. Lalu diikuti kontras
vokal sempit depan [i] dengan vokal sempit belakang [u].
Sesudah itu baru antara vokal [e] dengan vokal [u] dan vokal [o] dengan
vokal [e].
Wardan (2006 :
45) Pada penelitian diminta untuk menirukan bunyi vokal rangkap. Penguasaan
bunyi vokal rangkap pertama kali dikuasai setelah informan diminta menirukan
kata tersebut dan berdasarkan data adalah [ai] pada anak usia 2 tahun 7 bulan.
Penguasaan bunyi diftong yang selanjutnya berdasarkan data adalah [oi] pada
anak usia 2 tahun 9 bulan . Dan pengusaan bunyi diftong berdasarkan data adalah
bunyi [au] pada anak usia 3 tahun 6 bulan, dikuasinya bunyi diftong ini karena
berdasarkan data bahwa saat informan diminta untuk menirukan kata-kata yang
mengandung unsur diftong ternyata telah menguasai bunyi diftong tersebut.
C.
Hipotesis
Hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian di mana rumusan
masalah adalah apakah benar atau salah teori yang dikemukakan oleh Wardana dan
bagaimana kenyataan yang ada di lapangan.
Bahasa
merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi antara individu.
Sejatinya bahasa semakin hari semakin berkembang seperti anak yang semakin
dewasa semakin banyak kemampuan berbahasa yang dimiliki.
Mulai
dari anak membabel hinggga dapat menggunakan kalimat yang komplek. Dalam
pemerolehan kalimat yang kompleks ada beberapa tahapan yang didapatkan. Salah
satunya adalah pemerolehan diftong.
Penguasaan
vokal pada anak biasanya anak usia 2 tahun mampu menguasi huruf vokal walaupun
secara tidak keseluruhan. Pada tahap selanjutnya anak dapat mengusai vokal dobel
atau diftong. Dimulai dari diftong [ai] yang dikuasai lebih awal pada anak usia
2 tahun.
Kemampunya
mengusai diftong pada anak mulai berkembang ke tahap yang ke dua penguasaan
diftong [au] biasanya pada anak umur 3-4;5 tahun] tidak memungkiri jika masih
ada anak yang belum mampu menguasai diftong yang ke dua karena ada beberapa
faktor yang mempengaruhi seperti gigi ompong, gigi gugus, ataupun cedal.
Selanjutnya
pengyusaan diftong yang ke tiga adalah diftong [oi] yang biasanya anak umur 5
tahun ke atas baru mampu mempelajari diftong [oi]. Mengapa demikian karena ada
beberapa faktor lainnya seperti dialek yang dimiliki. Sebab lainnya karena
kurangnya pengetahuan fonemik bahasa Indonesia anak menjadi kaku untuk
mengucapkan bunyi-bunyi diftong yang menurut mereka sukar.
Maka
dari Hipotesis diatas maka dilakukan penelitian Pemerolehan
Diftong [ai], [oi], [au] pada tahap Perkembangan Anak Usia 2-4 Tahun (Penerapan
Teori Wardana). Teori dari Wardana yaitu pada anak umur 2 tahun 7 bulan sudah
menguasai diftong [ai], anak umur 2 tahun 9 bulan sudah menguasai diftong [au],
dan anak umur 3 tahun 4 bulan sudah mengusai diftong [oi]
D.
Metode Penelitian
1.
Pendekatan Penelitian
Penelitian
ini berusaha untuk mengungkapkan
permerolehan bahasa pada anak, khususnya perkembangan fonem diftong. Untuk
mendapatkan sebuah data peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena
dengan pendekatan tersebut relevan dengan sifat-sifat khas pendekatan
kualitatif. Dalam pendekatan kualitatif akan lebih menonjolkan kesan alami pada
anak. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengambilan data dengan metode
berkomunikasi dengan anak dengan pemberian kegiatan penuturan.
2.
Metode Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang digunaqkan dalam penelitian ini adalah metode cakap.
Metode ini dilakukan secara langsung. Dengan demikian, penelitian ini
menggunakan informan, yaitu penambahan atau pembantu bahasa (Sudaryanto dalam Warana, 2006:18)
Untuk
mendapatkan data ditentukan dengan
jumlah minimal 2 anak setiap masing-masing umur. Masing masing anak yang teliti
didapatkan dari wilayah kabupaten Pati masing-masing 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan.
Dalam
penelitian ini untuk umur 2 tahun terdapat 2 anak yang diteliti, untuk umur 3
tahun ada 3 anak yang diteliti, dan untuk anak umur 4 tahun ana 2 anak yang
diteliti.
3.
Metode Analisis Data
Sesuai
dengan tahapannya, setelah data yang dikumpulkan dianggap memadai, data yang
tersedia kemudian dianalisis. Analisis pertama dilakukan untuk menemukan
tahap-tahap penguasaan bunyi vokal diftong pada usia 2-4 tahun. Dalam berbagai
stuktur kata dalam bahasa Indonesia.
Metode
Pemaparan Hasil Analisis Data
Dalam penelitian ini
cara penyajiannya secara informal yaitu
dengan kata-kata biasa dan penyajian secara formal yaitu dengan lambang-lambang
. adapun lambang yang digunakan adalah tanda suku kurung ([ ]) yang menyatakn
unsur fonetis.
BAB II PEMBAHASAN
Bahasa
merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk saling bertukar
pendapat melalui pikiran masing-masing individu. Seiring bahasa lisan juga
dapat diikuti bahasa isyarat biasanya diikuti dengan gerakan tubuh untuk
memperjelas suatu maksud.
Pemerolehan
bahasa yang didapatkan oleh manusia ada yang didapatkan secara sadar dan secara
sadar. Dalam perkembangannya bahasa ini berkembang dari tahap ke tahap. Mulai
dari kata yang terdiri dari satu kata mewakili keseluruhan samapi ke kalimat
yang kompleks sehingga menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan jelas.
Anak
merupakan salah satu penutur bahasa yang semakin hari bahsanya semakin
berkembang. Pada adak usi a 2 tahun belum dapat mengungkapkan alfabet secara
sempurna begitu juga dengan anak umur 3 dan 4 tahun. Dalam pelafalan alfabet
anak masih ada yang perlu ditekakan untuk kata-kata yang sulit.
Pada
huruf konsonan biasanya anak lebih lama untuk mengusai, sedangkan vokal mulai
dari tahap membabel anak sudah dapat melafalkan akan tetapi belum sempurna dan
tidak terlalu jelas.
Wardana
(2006 : 23) Bunyi vokal dikuasi terlebih dahulu karena vokal pembentukkannya
tidak mengalami hambatan pada daerah artikulasi. Sejalan dengan yang
diungkapkan wardana memang benar.
Vokal
di dalam bahasa indonesia ada enam vokal, yaitu [a], [i], [u], [e], [o], [ɘ]
(Meiliono dalam Wardana, 2006 : 23). Dari huruf vokal terdapat bunyi diftong,
yaitu adalah dua vokal yang berbeda berada dalam satu kata dan sejajar. Diftong
sendiri dalam bahasa Indonesia ada tiga, yaitu [ai], [au], dan [oi] yang
masing-masing dapat dituliskan secara fonemis /ay, /aw/, dan /oy/ . ciri bunyi diftong ialah keadaan posisi
lidah dalam mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan yang lain saling berbeda.
Jika
pada anak 2 tahun mulai menguasai huruf vokal tidak dengan bunyi diftong.
Kemampuan anak dalam menguasai diftong ada 3 tahapan. Yang pertama penguasaan diftong
[ai], ke dua diftong [oi] dan yang ke tiga diftong [au].Pada penelitian ini
anak diminta untuk menirukan bunyi vokal rangkap tersebut dan berdasarkan
data informan tersebut tidak sempurna
menirukan dalam arti bahwa bunyi yang ditirukan diganti dengan bunti lain
karena belum bisa diucapkai saat diucapkan ketika dirangkai dengan kata lain.
Ada
beberapa pemerolehan data dalam penelitian anak umur 2 tahun yang dapat
mengusai diftong yang ke dua dan ke tiga akan tetapi, pada anak umur 3 dan 4
tahun ada yang belum dapat mengusai diftong ke dua dan ketiga. Hal ini
disebabkan dari beberapa faktor salah satunya keaktifan anak dalam berinteraksi
dengan individu lain. Anak yang cenderung diam akan kurang terdengar jelas
dalam pelafalan diftong. Berikut data pemerolehan diftong pada anak usia 2-4
tahun:
a. Kemampuan
diftong [ai] pada anak usia 2 tahun. Urutan penguasaan bunyi vokal rangkap
pertama kali dikuasai setelah informan diminta menirukan kata tersebut dan
berdasarkan data adalah [ai] (Wardana, 2006 : 44). Pada penelitian yang saya
lakukan sudah membuktikan bahwa pada anak usia 2 tahun sudah mampu atau
menguasai diftong [ai] berikut data penelitian:
1) Agil
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai]
|
Camp[ai]
|
|
2
|
Sung[ai]
|
Nyuny[ai]
|
|
3
|
Pand[ai]
|
Pand[ai]
|
Awal dari penelitian anak malu-malu
saat bertemu dan malu untuk bertanya karena tidak pernah bersapa muka. Akan
tetapi semakin lama dan melibatkan orang tuanya, anak mau mengucapkan bunyi
diftong dengan didikte dan anak menirukan. Dari ketiga kata tersebut anak belum
menguasai huruf konsonan yaitu [s]. Dalam dua kata yang berbeda fonemik berubah
menjadi berbeda. Sedangkan untuk
penguasaan diftong [ai] dari tiga kata yang telah ditirukan anak berusia 2
tahun sudah mampu menguasai diftong [ai] dalam pengucapan anak harus
diulang-ulang agar mereka mam[pu memahami apa nyang harus ditirukan. Jika dalam
satu kali penyontohan kata anak jika tidak mengerti tidak akan mengucapkannya.
2) Dharma
Virya Hadinatha
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai]
|
Camp[ai]
|
|
2
|
Sung[ai]
|
Nyuny[ai]
|
|
3
|
Pand[ai]
|
Pand[ai]
|
Pada pengambilan data anak diajak
berbicara dengan peneliti tidak mau bicara dan hanya berlarian saja. Peneliti
meminta bantuan kepada ibu dari sang anak. Dalam pengambilan datanya sang anak
sambil bermain dan cenderung malas, untuk mengucapkannya karena anak belum
terlalu sering diajak untuk belajar bersama. Akan tetapi dalam penguasaan
diftong anak sang anak sudah mengusai diftong [ai] tanpa ada pengulangan
pelafalan dari anak sudah jelas bahwa anak mampu menguasai.
b. Kemampuan
diftong [oi] pada anak usia 3 tahun.
Berdasarkan data yang diambil pengusaan bunyi diftong yang ke dua adalah
diftong [oi] . berikut data penelitian :
1) Banyu Dhamar Pinulung
|
No
|
Kata
|
|
|
1.
|
Sep[oi]
|
Sep[oi]
|
|
2.
|
Amb[oi]
|
Amb[oi]
|
|
3.
|
As[oi]
|
As[oi]
|
Dalam
penelitian anak diajak belajar mengucapkan diftong. Dari tiga kata tersebut
anak sudah menguasai huruf konsonan dan vokal. Dan untuk penguasaan diftong
[oi] pada informan sudah mengusai dengan penuh. Dengan beberapa kali
pengulangan diftong yang diucapkan tidak berubah dan tetap dapat mengucapkan
diftong [oi].
2) Tristan
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Sep[oi]
|
Tep[oi]
|
|
2
|
Amb[oi]
|
Ab[oi]
|
|
3
|
As[oi]
|
At[oi]
|
Dalam pengambilan data anak diajarkan
sang ibu untuk mengulang kata yang diucapkan oleh ibunya. Dari tiga kata yang
telah ditirukan oleh anak tersebut dalam diputuskan bahwa informan belum dapat
mengusai huruf konsonan karena adanya faktor ompong, jadi menghambat informan
untuk mengucapkan hurus [s]. Sedangkan untuk vokal konsonan, anak sudah
menguasai. Dan untuk bunyi diftong sang anak sudah mengusai tanpa harus adanya
penekanan dan pengulangan untuk meyakinkan pengusaan bunyi diftong.
3) Siti
Aqila Nur Fitriani
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Sepoi
|
Sepoi
|
|
2
|
Amboi
|
Ambio
|
|
3
|
Asoi
|
Acoi
|
Dari
tiga kata yang telah ditirukan oleh anak tersebut, bawasanya anak sudah
menguasai konsonan [s] diawal kata akan tetapi belum menguasai konsonan [s]
ditengan kata. Dalam menentukan kemampuan anak juga tidak perlu adanya
penekanan untuk menegaskan penguasaan diftong [oi pada anak.
c. Kemampunan
diftong [au] pada anak usia 4 tahun.
1) Fatin
Haniatul Hasna
|
No
|
Kata
|
|
|
4
|
Lampau
|
Lampo / Lampa-u
|
|
5
|
Jangkau
|
Jangkou
|
|
6
|
Sakau
|
Sakau
|
Dari tiga kata yang telah ditirukan
oleh anak dapat dinyatakan bahawa informan
dalam penguasaan vokal diftong belum menguasai, masih adanya penekanan
dalam mengucapkan diftong [au] karena masih terpengaruh oleh dialek jawa yang
biasanya vokal diftong [au] digantikan dengan vokal [o]. Selain dialek yang
mempengaruhi penguasaan diftong [au] sang anak juga cenderung sering bercanda.
Maka disitu pula dilakukan penekanan pengulangan pelafalan bunyi diftong.
2) Angel Khaira
|
No
|
Kata
|
|
|
4
|
Lampau
|
Lampa
|
|
5
|
Jangkau
|
Jangka
|
|
6
|
Kerbau
|
Kerba
|
Dari kata yang telah ditirukan oleh anak dapat dinyatakan
bahw informan belum menguasai vokal diftong [au]. Kesulitan yang dialami anak
adalah untuk membuka mulut untuk berbicara masih malu-malu. Walaupun sudah ada
teman yang mencontohkan untuk pelafalan bunyi diftong akan tetapi sanganak
belum dapat mengucapkan diftong [au]. Jadi dalam pengucapan kata anak masih
belum menguasai.
Dapat di simpulkan dalam tabel kemampuan vokal diftong pada
masing-masing anak.
|
Usia penguasaan bunyi diftong
|
Diftong yang dikuasi
|
|
2 tahun
|
[ai]
|
|
3 tahun
|
[oi]
|
|
4 tahun
|
-
|
BAB III PENUTUP
Simpulan
Bahasa merupakan alat komunikasi
yang digunakan oleh manusia untuk saling bertukar pendapat melalui pikiran
masing-masing individu. Seiring bahasa lisan juga dapat diikuti bahasa isyarat
biasanya diikuti dengan gerakan tubuh untuk memperjelas suatu maksud.
Seorang anak awalnya belum dapat
mengungkapkan kata, hanya membabale. Seiring dengan pertumbuhan anak mulai
dapat mengungkapan satu kata mewakili keseluruhan makana. Hingga ke dua kata
dan mulai berkembang hingga dapat membuat kalimat yang kompleks yang
menunjukkan maknma kata yang sesungguhnya.
Penguasahan vokal lebih awal
dialami oleh seorang anak dibandingkan hurus konsonan karena huruf vokal tidak
mengalami hambatan saat pengucapan. Begitu juga dengan vokal diftong lebih awal
dikuasi dafri pada konsonan klaster.
Pada penelitian ini dapat
disimpulkan bawa teori wardana kurang tepat karena pada anak 4 tahun belum
dapat menguasai vokal diftong au karena adanya berberapa faktor seperti masih
kurang berkomunikasi, ompong, dan dialek yang sudah sering digunakan.
Dari tabel yang ada dipembahasan
dapat ditarik kesimpulan pula, bahwa kemampuan diftong [au] memerlukan tahap
yang lebih tinggi lagi karena pada teori Novia Solichah juga disebutkan bahwa anak umur 5-6 tahun juga
masih sulit menguasai bunyi diftong secara keseluruhan.
Daftar Pustaka
Wardana, Adi. 2006. “Fonologi
Bahasa Indonesia pada Anak Usia
Prasekolah”.
Skripsi. Fakultas Sastra, Sastra Indonesia, Universitas Airlangga
Surabaya.
Solichah, Novia. 2006. “Pengaruh
Kegiatan Sosiodrama Terhadap Peningkatan
Kemampuan Bahasa Lisan Anak Usia Dini”. Skripsi. Fakultas Psikologi
Dan Kesehatan, Program Studi Psikologi, Universitas Islam
Negeri Sunan
Ampel
Surabaya.
Musfiroh dan Tadkirotun. 2017. “Psikolinguistik Edukasional”.
Yogyakarta. Tiara
Wacana.
Chaer, Abdul. 2015. “ Psikolinguistik kajian Teoritik” . Jakarta. PT. Rineka
Cipta.
Lampiran
Biodata
Umur 2 tahun
Tanggal pengambilan data 3 Desember 2017
Nama : Agil Abdilah
TTL : Pati, 21
Januari 2016
|
No
|
Kata
|
Anak
|
|
1
|
Samp[ai ]
|
Camp[ai]
|
|
2
|
Sung[ai]
|
Nyuny[ai]
|
|
3
|
Pand[ai]
|
Pand[ai]
|
|
4
|
Lamp[au]
|
Lamp[ao]
|
|
5
|
Jangk[au]
|
Tangt[o]
|
|
6
|
Kerb[au]
|
Terb[au]
|
|
7
|
Sep[oi]
|
Cep[oi]
|
|
8
|
Amb[oi]
|
Amb[oi]
|
|
9
|
As[oi]
|
Ac[oi]
|
Tanggal pengambilan data
Umur 2 tahun
9 Desember 2017
Nama : Dharma Virya
Hadinatha
TTL : Pati, 22
Oktober 2015
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai ]
|
Samp[ai]
|
|
2
|
Sung[ai]
|
Sung[ai]
|
|
3
|
Pand[ai]
|
Pand[ai]
|
|
4
|
Lamp[au]
|
Lamp[a]
|
|
5
|
Jangk[au]
|
Jangk[a]
|
|
6
|
Sak[au]
|
Keb[a]
|
|
7
|
Sep[oi]
|
Sap[i]
|
|
8
|
Amb[oi]
|
-
|
|
9
|
As[oi]
|
-
|
Umur 3 tahun
Tanggal pengambilan data
3 Desember 2017
Nama : Banyu Dhamar Pinulung
TTL : Pati, 6 Juni 2014
|
No
|
Kata
|
|
|
1.
|
Samp[ai]
|
Samp[ai]
|
|
2.
|
Sung[ai]
|
Sung[ai]
|
|
3.
|
Pand[ai]
|
Pand[ai]
|
|
4.
|
Belal[ai]
|
Belal[ai]
|
|
5.
|
Lamp[au]
|
Lap[oi]
|
|
6.
|
Jangk[au]
|
Jangk[oi]
|
|
7.
|
Keb[au]
|
Kerb[oi]
|
|
8.
|
K[au]
|
K[au]
|
|
9.
|
B[au]
|
B[au]
|
|
10.
|
Sep[oi]
|
Sep[oi]
|
|
11.
|
Amb[oi]
|
Amb[oi]
|
|
12.
|
As[oi]
|
As[oi]
|
Umur 3 Tahun
Tanggal pengambilan data
26 Desember 2017
Nama : Tristan
Pradana Anwar Saputra
TTL : Blora, 20
Desember 2014
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai]
|
Tant[ai]
|
|
2
|
Sant[ai]
|
Tant[ai]
|
|
3
|
Belal[ai]
|
Beyay[ai]
|
|
4
|
Harim[au]
|
Haim[au]
|
|
5
|
Jangk[au]
|
Tant[oi]
|
|
6
|
Kerb[au]
|
Peb[au]
|
|
7
|
Sep[oi]
|
Tep[oi]
|
|
8
|
Amb[oi]
|
Ab[oi]
|
|
9
|
As[oi]
|
At[oi]
|
Umur 3 Tahun (3,5 tahun)
Tanggal pengambilan data
26 Desember 2017
Nama : Siti Aqila Nur
Fitriani
TTL : Pekalongan, 4
Agustus 2014
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai]
|
Samp[ai]
|
|
2
|
Sant[ai]
|
Ant[ai]
|
|
3
|
Belal[ai]
|
Belal[ai]
|
|
4
|
Harim[au]
|
Harim[o]
|
|
5
|
Jangk[au]
|
Jangk[au]
|
|
6
|
Kerb[au]
|
Keb[au]
|
|
7
|
Sep[oi]
|
Sep[oi]
|
|
8
|
Amb[oi]
|
Amb[oi]
|
|
9
|
As[oi]
|
Ac[oi]
|
Umur 4 tahun
Tanggal Pengambilan data
2 Desember 2017
Nama : Fatin Haniatul
Hasna
TTL : Pati,
Desember 2013
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai]
|
Samp[ai]
|
|
2
|
Sung[ai]
|
Suny[ai]
|
|
3
|
Pand[ai]
|
Pand[ai]
|
|
4
|
Lamp[au]
|
Lamp[o] / Lamp[a-]u
|
|
5
|
Jangk[au]
|
Jangk[ou]
|
|
6
|
Sak[au]
|
Sak[au]
|
|
7
|
Sep[oi]
|
Sep[oi]
|
|
8
|
Amb[oi]
|
Amb[oi]
|
|
9
|
As[oi]
|
As[oi]
|
Umur 4 Tahun
Tanggal pengambilan data
3 Desember 2017
Nama : Angel Khaira
TTL : Pati, 24
Desember 2013
|
No
|
Kata
|
|
|
1
|
Samp[ai]
|
Samp[ai]
|
|
2
|
Sung[ai]
|
Pand[ai]
|
|
3
|
Pand[ai]
|
Sung[ai]
|
|
4
|
Lamp[au]
|
Lamp[a]
|
|
5
|
Jangk[au]
|
Jangk[a]
|
|
6
|
Kerb[au]
|
Kerb[a]
|
|
7
|
Sep[oi]
|
Sep[ai]
|
|
8
|
Amb[oi]
|
Amb[oi]
|
|
9
|
As[oi]
|
As[oi]
|






Komentar
Posting Komentar